dijamin jitu.........................

Sabtu, 23 Mei 2009

VANDAL. Sangat haram !

Apalagi ditengah masyarakat kita yang sangat percaya pada sebuah kata : MORAL. Moral yang terbentuk oleh kondisi baik-buruk yang ditentukan oleh dogma-dogma. Tapi seperti layaknya kata lain yang yang pernah ada tertulis dalam kamus, kita mengenal arti dibalik kata-kata yang terdefinisi oleh kekuatan, segala macam jenis kekuasaan yang ada. Power of language, language of power.

Ehm...Sekarang sudah waktunya kita lihat sekeliling kita seperti layaknya Keanu Reeves dalam film Matrix yang menyadari bahwa sekelilingnya sudah dikuasai oleh musuhnya yang dikendalikan oleh komputer. Kita sekarang berada di tengah-tengah alam komoditas yang ternyata kita tidak memiliki pilihan apapun kecuali mengkonsumsi, mengkonsumsi yang dalam era Neo-Liberalisme ini berarti mengkonsumsi semua produk PASAR yang dikendalikan oleh keserakahan akan properti dalam atmosfir kompetisi dan semua komoditas ini ditawarkan di depan hidung kita. Dan kita tidak pernah bisa lepas kecuali kita MATI sekalian.

Ditengah masyarakat "pertunjukkan" ini segala hal terdefinisi lewat barang yang kita konsumsi. Ya, kita hidup disebuah abad moderen yang ternyata mendefinisikan bahwa properti adalah segala-galanya. Ya, segalanya bahkan lebih berarti dari nyawa manusia sendiri. Disadari atau tidak oleh kita semua. Kita dibesarkan untuk menghormati properti bukan kehidupan.

Lalu apa hubungannya dengan kata VANDAL ? Ooppss.....Vandal adalah pelanggaran yang tak terpikirkan untuk terjadi. Perusakan sesuatu, sebuah properti yang dihargai oleh sebagian orang namun juga berarti sebuah ekspresi bagi sebagian lainnya.
VANDALISME adalah sepasang kekasih yang mengukir namanya pada kulit sebuah pohon. Vandal adalah coretan tagging seorang anak SMU di sebuah WC, dan vandal adalah seperti yang kita tonton di TV pada akhir tahun 1999 lalu, seorang bermasker dalam sebuah aksi anti-WTO menghancurkan kaca toko NIKE di Niketown Seattle dan meluluhlatakkan Mc Donalds di Eugene.

Ooouuhhhh....Apa yang lebih bagus lagi yang dapat menjadi ekspresi lengkap dari sebuah depresi sinis dari dekade post-modern ini daripada kelakuan vandal ini ? Dapatkah bentuk seni apapun dalam generasi kita ini yang dapat menawarkan sebuah guratan harapan untuk sebuah pelarian tanpa konfrontasi langsung dengan properti ? Berkesenian berarti berkreatifitas, berkreatifitas berarti memberontak. Ya, pemberontakan adalah menjadi kreatif, menjadi kreatif berarti memberontak. Dan adakah pemberontakan anak muda yang lebih subversif daripada vandal ? Adakah kreatifitas yang lebih kreatif daripada vandal ?



Vandalisme bagi kami adalah bentuk parasit yang lahir dari esensi peradaban barat dalam sebuah era millenial ini. Sebuah "harapan" yang bukan harapan di saat kita berdiri terpaku kaku, dimanipulasi oleh teknologi dan hasrat/keinginan komersiil. Lihatlah sekali lagi, para perancang PASAR merancang arti dari pakaian, mobil, furniture bagi kita bahkan makanan yang kita konsumsi ! Kita memilih dan mendefinisikan diri kita dengan produk yang yang dapat kita beli yang secara bertahap menghilangkan, memusnahkan arti dari kita sendiri. Dan lihatlah diri kita sekarang.

Kita merupakan proyek komersial dari perancangan makna komersial tersebut tadi !!
Dan dengan begini kita sekarang dapat melihat kenyataan sebenarnya, siapa yang parasit dan siapa yang sebenarnya organ host-nya. Kita adalah organ yang hidup dan kultur komoditas inilah parasitnya !! Justeru sekarang kitalah obyek yang ter"vandal"kan !! Kita dibentuk, diolah, dibungkus dan ditandai dengan penandaan pasar . Dijadikan subjek kaku dalam ilmu-ilmu ekonomi, setelah ini terjadi dapatkah kita menyebut diri kita hidup dalam sebuah alam kebebasan ? memilih dengan bebas ?
Adakah demokrasi di alam yang tidak demokratis ini ? Demokratis sebelah mana jika kita untuk berbicara pun harus terlebih dulu memiliki properti !!! Kita dikelabui untuk untuk percaya bahwa untuk sebuah identitas kita harus bergantung pada sebuah parasit !! Bergantung pada produk dagangan !!!

Dan definisi vandal bagi kami ? Yeah, apa yang kita tahu sekarang tentang vandal adalah berarti menolak untuk jadi pecandu yang bergantung pada konsumerisme total. Kami menolak untuk bergantung pada barang dagangan dan menolak menghormati "properti" meski pada akhirnya kita semua memang tak akan pernah bisa lepas total dari Godzilla ini. Ya, budaya konsumsi ini adalah Godzilla. Sebuah monster yang ada di atas kepala kita dan terus tumbuh membesar ke atas dan mengakar menghuja ke bawah. Siapa pun yang hidup di dalamnya pasrah. Hanya akan kalah menghina diri sendiri dengan terus menerus bersaing untuk mendapatkan esensi semu sebuah kehidupan.

Kompetisi ? Betul dan kami menolak untuk berkompetisi, yang melanggengkan sebuah sistem yang melanggengkan penghormatan terhadap properti ini. Vandalisme adalah ekspresi dari psikologi sebuah pelarian sebuah usaha pemahaman akan sebuah eksistensi dan hal ini sekarang sudah menjadi sebuah perbuatan kriminal.

Vandalisme adalah seni. Ya seni, ketika seni sendiri sudah tidak dapat lagi menyelamatkan makna dari sebuah keabsurdan yang berlebihan dari kondisi materi sekarang ini.Di dalam masyarakat yang gencar mempromosikan mitos "pilihan total" maka pilihan paling krusial adalah menjadi KRIMINAL tadi yang berarti memiliki makna : usaha untuk memiliki kemampuan untuk menciptakan makna baru untuk sesuatu.
Titik dimana mitos dan realitas bertemu adalah titik dimana politik dan seni bertubrukan. Menjadi hantu vandal, menjadi penghambat kultur, menjadi tanpa otoritas, menjadi anarkis. Pada titik pertemuan inilah semua barikade menguap.

>>rio10


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Arsip Blog

Pengikut