dijamin jitu.........................

Tampilkan postingan dengan label sansiviera. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sansiviera. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Juli 2009

sansiviera masoniana giant




Sansiviera ini biasa dikenal dengan"giant" karena daunnya yang tebal dan lebar berwarna hijau dengan corak kehitaman.



Sansi ini banyak dijual di nurseri-nurseri dengan harga 50rb-125rb per daun alasan kenapa harganya mahal perdaun yaitu karena untuk tumbuh satu daun saja bisa sampai 6 bulan sampai 1 tahun. Oh iya, klo ada pembaca yang berdomisili di makassar dan sekitarnya bisa hubungi saya

Read More..

Sansiviera Fisheri


Berasal dari Zimbabwe Utara. Daun tebal agak pendek tapi ada juga yang panjang tergantung umurnya. Biasa disebut juga ‘Goat Horn’ karena memiliki susunan daun menyebar dan lebih rebah. Bentuk daun tidak silinder sempurna. Mirip seperti tanduk kambing. Kalo di Indonesia ini lebih dikenal dengan ‘kuku bima’

Read More..

sansiviera twister

Read More..

Sansevieria Trifasciata Hahnii "Golden Benner"

Sansevieria Trifasciata Hahnii "Golden Benner", sebuah nama yang cukup panjang untuk ukuran orang Indonesia, kecuali nama untuk gelar dan keturunan raja-raja atau bangsawan. Tapi itulah sanse cantik warna kuning di sekujur permukaan daunnya, dengan hijau chloropil di bagian tengah dan tepian (list) daun yang membentuk garis-garis abstrak searah dan sebagian dilapisi warna keperakan.

Hanya saja si cantik ini cukup rentan terhadap serangan bernagai penyakit yg bakal mengurangi penampilannya yang mulus karena terkesan ada bekas jerawat. Ada sedikit tips yg sebagai bahan masukan bagi sansies untuk perawatan si cantik:

* durasi waktu untuk penempatan indoor tidak melebihi seminggu dengan media kering, dan sebaiknya segera dikenakan sapuan sinar matahari pagi s/d jam 10.00;



* hindarkan dari sinar matahari langsung lebih dari 6 jam sehari karena potensi terjadi daun terbakar;
* peletakan di tempat yang sanitasinya bersih;
* gunakan media porous dengan lebih dari 50% pasir malang atau sekam bakar;
* hindari penyiraman yang berlebihan;
* minimalisasi penggunaan unsur N pada nutrisi/pupuk;

Read More..

sansiviera menyerap polusi

Denpasar (BisnisBali) –Selain memiliki pesona tinggi, sansiviera yang berdaun meruncing ini punya kemampuan menyerap polusi.

Tak heran sejumlah penghobi tanaman hias menaruhnya di pojok ruang kantor atau rumah dengan tujuan membantu sirkulasi udara di dalam ruangan.

“Meski bila kita cium tanaman ini tidak mengeluarkan bau wangi, namun sansiviera efektif sekali untuk menyerap bau yang tak sedap terutama di dalam ruangan,” tutur Wayan Sukarma, pedagang tanaman dan pebisnis landscape di Denpasar, Jumat (27/4) kemarin.

Terang Sukarma, hal tersebut dalam tanaman hias sering disebut dengan proses potosintesis dan itu hanya mampu dilakukan oleh sejumlah jenis tanaman hias saja.

Katanya, pada ruangan tertutup penempatan sansiviera tentu akan jadi berguna bagi manusia dan tercipta hubungan saling menguntungkan.

Pasalnya, di satu sisi sansiviera menyerap polusi (karbondioksida) di dalam ruangan dan mengeluarkan kembali dalam bentuk oksigen murni, di sisi lain manusi bisa terus menghirup udara segar walau dengan sirkulasi udara yang tertutup.
Sansiviera sendiri di kalangan masyarakat lokal sering juga disebut dengan nama lidah mertua.



Jelasnya, kemampuan sansiviera bertahan hidup di dalam ruangan cukup tinggi, karena tanaman ini dapat tumbuh dalam kondisi dengan sedikit air dan cahaya matahari.

Sansiviera yang berkembang biak melalui umbi lapis ini, untuk tumbuh dan berkembangnya hanya memerlukan 40 persen air saja.
Sansiviera ini tidak memerlukan perawatan yang rumit dan cukup tahan banting.

Bahkan tak disiram beberapa hari pun tetap bertahan hidup.
Meskipun mudah ditanam, katanya, sansiviera ini tetap harus diperhatikan perawatannya, seperti faktor struktur, cuaca, media dan bibitnya.

Media yang baik bila ditanam di lahan, sebaiknya, menggunakan sekam murni, pupuk kandang dan tanah bakar.

Sementara jika di polybag bisa memakai tanah bakar dan cocopeat.
Mudarta, pebisnis tanaman hias lainnya juga mengungkapkan hal sama. Sansiviera ini memang menarik sebagai tanaman hisa dan efektif untuk pencegah polusi udara yang terjadi di dalam ruangan.

Selain itu, hal unik lainnya dari sansevieria ini, jika dilakukan perbanyakan tanaman ini belum tentu mendapat hasil yang sama dengan indukannya, malah bentuknya bisa lain.
“Jadi, bila kita menemukan varietas baru bisa dinamakan sendiri. Sebab itu pula, di pasaran tanaman sansiviera ini dikenal dengan banyak varietas,” tandasnya.

Sumber : http://www.bisnisbali.com/2007/04/28/news/agrohobi/sew.html
Read More..

Cacat Pembawa Berkah

Warnanya memang aneh. Itu bila dibandingkan dengan sansevieria normal. Bila pada jenis sansevieria lourentii normal warnanya hijau dengan garis kuning, mutasi bisa kebalikannya – kuning dengan garis hijau, bahkan keseluruhannya berwarna kuning. Harganya pun fantastis bila dibandingkan dengan sansevieria normal.
Seakan sudah jadi hukum alam, keanehan yang terjadi pada tanaman hias, termasuk sansevieria, membuat jenis mutasi berharga mahal. Namun tak selamanya, alasan itu menyebabkan mutasi berharga mahal. Gengsi karena memiliki jenis ‘hanya’ satu-satunya itu, membuat harga kian melambung.
Pengalaman itu mungkin salah satunya dialami oleh Listyo Bramantyo – Pebisnis Sansevieria di Jogjakarta. Beberapa jenis sansevierianya memiliki cacat sekaligus membuatnya unik, yaitu munculnya warna kuning dan putih pada beberapa jenis sansevieria giant.
“Beberapa orang sempat menawar koleksi langka ini. Namun hingga saat ini, kita belum berani membuka harga, karena minimnya koleksi, membuat jenis ini untuk dikoleksi sendiri terlebih dulu,” ujar Listyo.
Warna kuning dan putih itu muncul seragam dengan motif horisontal. Namun demikian, warna hijau dan hitam masih jadi latar belakang yang khas dari jenis trivaciata asal Afrika itu. Kecacatan yang berakhir pada keunikan ini, membuat jenis ini belum berbandrol hingga sekarang.
Kenapa Sansevieria Berubah Bentuk?
Cacat pada sansevieria atau tanaman lainnya adalah hal wajar, bahkan itu juga sering terjadi di setiap makluk hidup lain. Hanya keunikan sifat yang nyleneh, membuat hal itu sering dinanti pecinta tanaman hias muncul pada tanaman jagoannya.
Menurut Arie W Kusuma, Dosen Pertanian Agronomi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jogjakarta, perubahan warna dan bentuk tanaman pada dasarnya hal normal. Tak hanya tanaman, dalam penyusunan DNA (penyusun kromosom), tak jarang mahkluk hidup selalu mengalami kecelakaan atau penyusunan yang tak berjalan normal, akhirnya terjadi perubahan sifat.
“Gejala mutasi tak sama antara satu tanaman dengan yang lain. Sebab, biasanya hal ini terjadi akibat gejala genetik,” imbuh Arie. “Dalam sel makluk hidup, biasa tersusun dengan rangkaian DNA yang saling membangun. Normalnya, DNA itu tersusun secara normal dengan struktur yang sesuai,” tambahnya.
Hanya susunan tersebut tak selalu berjalan lancar. Pasalnya, beberapa bagian sering tersusun secara nyleneh. Susunan terbalik atau bagian yang tersusun random adalah beberapa contoh diantaranya. Itu yang akhirnya mengakibatkan kelainan atau istilah kita mutasi. Banyak perubahan yang bermuara dalam mutasi tanaman. Umumnya mulai dari warna, bentuk, penampilan, dan proses tumbuh-kembang (umumnya dalam ukuran normal tanaman tumbuh cepat atau malah tumbuh lambat).



“Perubahan atau mutasi tanaman yang terbentuk, karena rangkaian susunan DNA yang kurang tepat, pada dasarnya sering mengakibatkan dampak buruk sekaligus negatif. Sebab, di saat beberapa tanaman yang bermutasi memiliki estetika lebih, lainnya justru mengalami perpendekan usia atau mati,” ujar Arie.
Jika mengutip pendapat Arie dalam bukunya bertajuk Sansevieria, mutasi pada tanaman biasanya dibagi jadi beberapa kelompok, yaitu mutasi morfologi, letal, kondisional, biokimia, dan mutasi resistensi.
Mutasi morfologi adalah mutasi yang bisa dilihat dengan ciri perubahan pada bentuk, warna dan ukuran daun yang berubah dari induknya. Mutasi ini sering dijumpai pada sansevieria dan tanaman lain. Pada sansevieria mutasi ini ditandai dengan warna daun hijau bergaris kuning berubah jadi kuning polos.
Mutasi letal adalah perubahan yang bersifat negatif, karena ini sering berakibat pada kematian (letal). Itu sering terjadi ketika sansevieria di-stek. Ada juga mutasi kondisional. Itu sering terjadi akibat pengaruh lingkungan (kondisi). Anthurium black beauty misalnya, di daerah dingin, mutasi warna jenis ini akan muncul. Tapi sebaliknya, di daerah panas, mutasi jenis yang sama tak muncul, bahkan sulit.
Ada juga jenis mutasi biokimia. Mutasi ini biasa disebabkan oleh bahan-bahan yang merusak tanaman, sehingga tanaman berakibat negatif, dengan ditandai struktur bagian tertentu jadi kurang menarik, kriting, lemas, berubah warna tua, dan kering adalah contoh yang sering terjadi. Namun hal ini bisa diminimalisir dengan pemberian nutrisi yang baik.
Terakhir adalah mutasi resistensi. Mutasi ini biasanya disebabkan oleh nutrisi atau bahan biokimia yang lain, seperti kolkisin atau irradiasi sinar gama. Mutasi ini bersifat resistan, karena perubahan atau tetap. Jumlah kromoson yang terlibat tersusun secara terbalik, berkurang atau bertambah. Banyak yang sering bertanya, bisakah mutasi dibentuk?
Dan dari keterangan Arie, hal itu sangat mungkin dilakukan, yaitu dengan metode penggunaan bio kimia. Biasanya hal itu dilakukan dengan latar belakang ilmu yang cukup. Sebab, metode ini menggunakan perhitungan dan proses pengukuran bahan yang tepat. [adi]
Pasar Mutasi Tetap Menarik
Meski memiliki populasi sedikit, tapi sansevieria mutasi tak mempunyai pasar yang besar. Selain harga lebih tinggi, produk yang dijual juga terbatas. Jadi bila dibandingkan dengan produk normal, jenis mutasi mengisi sangat kecil. Tapi bila dilihat dari nilai rupiah yang dihasilkan, bisa jadi produk mutasi lebih menguntungkan.
Pebisnis Sansevieria di Surabaya – Budi Wibowo, mengaku kalau saat ini memang untuk jenis mutasi mempunyai banyak peminat. Sebagai ilustrasi, dikatakan kalau dari semua produk mutasi, terutama yang permanen begitu ditawarkan pasti ada pembeli.
“Jadi berapapun barang mutasi, pasti bisa terjual,” tandas Budi.
Sayangnya, populasi jenis mutasi sangat sedikit, bahkan bisa di atas 1:100. Jadi meski menjanjikan, keuntungan besar tetap tak bisa dikejar atau dipastikan. Sebab dari harga mahal, pembelinya dari kalangan tertentu saja. Lagi pula tak semua jenis mutasi mempunyai harga mahal, karena tetap bergantung dari jenisnya.
Contohnya, untuk jenis laurentii normal setidaknya harga jual berkisar di angka Rp 10 ribu. Namun saat jadi mutasi, jenis berdaun lebar ini paling tidak bisa mendatangkan uang hingga Rp 150 ribu. Berlipat hingga 10-20 kali jadi hal wajar, karena memang jadi barang langka.
Contoh lain dari jenis yang mahal adalah giant yang punya harga pasaran sekitar Rp 75 ribu setiap daunnya. Saat warna mengalami mutasi atau variegata jadi putih, jangan kaget bila penjual akan melepas dengan harga Rp 2 juta. Cukup menggiurkan dan tentunya punya prospek usaha besar.
Tapi jangan harap keuntungan besar bisa dicapai dengan mudah, karena baik dari petani, tengkulak maupun pedagang tak akan mudah untuk melepaskannya. Tak kalah penting juga adalah dimana lokasi berjualan, karena antara lokasi outdoor dan indoor jelas berbeda, termasuk di lapangan atau di dalam mall.
Menariknya, pasar sansevieria mutasi juga diungkapkan oleh Hadi – pebisnis yang banyak menjual produk mutasi. Tapi jenis yang dimiliki relatif mempunyai harga terjangkau, sehingga meski mutasi, tapi di tingkat pembeli harga masih bisa dipahami. Salah satunya untuk jenis vutura mutasi yang dijualnya Rp 275 ribu. Angka ini tentu tak terlalu mahal, tapi kelas pasar yang diambil akan lebih besar. Jadi secara kasar, keuntungan sedikit, tapi kuantitas besar. Secara kauntitas pun jumlahnya tak sampai 10% dari produk normal. [wo2k]

Read More..

sansiviera kirkii var. pulchra brown


Sejauh yang kami tahu dan beredar di sansies maupun pasar di Indonesia, terdapat 2 varian utama spesies kirkii. Yakni kirkii var pulchra dan superclone. Pulchra sendiri mempunyai 2 jenis yang dikenal dengan trade mark: coppertone dan brown. Ciri khasnya adalah warna daun hijau kecoklatan menyerupai tembaga, dengan pembeda ada tidaknya garis vertikal teratur warna dark brown dari muara ke ujung daun.



Sedangkan superclone memiliki 2 jenis yang dikenal dengan trade mark: coral blue dan doughlas, dengan warna daun hijau kebiruan dan lapisan lilin silver di sekujur permukaan daunnya. Ciri pembeda utama adalah bentuk muara daun "doughlas" semi selindris atau seolah nampak seperti terdapat tangkai daun, diteruskan perilaku daun semakin pipih membuka kearah ujung daun. Namun dari keempat jenis kirkii memiliki kesamaan tidak dipunyainya duri pada ujung daunnya yang kering tipis memerah.

>>rio10
dari berbagai sumber
Read More..

Arsip Blog

Pengikut